Berburu Lailatul Qadar



Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam untuk Rasulullah. Amma ba'du.

Saudaraku seislam yang saya cintai, ketahuilah bahwa Lailatul Qadar adalah malam teristimewa dalam bulan Ramadhan. Ia adalah satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Maka berbahagialah seorang hamba yang mendapatkan kemudahan untuk meraih keutamaan beribadah di malam itu. Dan merugilah mereka yang melewati malam itu dengan kesibukan-kesibukan yang melalaikan dan mengeraskan hati, bahkan  tenggelam dalam berbagai kemaksiatan dalam mendurhakai Rabb-nya.

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Saudaraku, sungguh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama- telah mengabarkan kepada umatnya tanda-tanda Lailatul Qadar dalam berbagai sabdanya.

1⃣ Lailatul Qadar terdapat pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan.

2⃣ Ia terdapat pada malam yang ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ »

Dari ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha-, dia berkata ; bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama- bersabda : “Carilah lailatul qadar itu pada malam ganjil disepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” [HSR. Bukhari -rahimahullahu- no. 2017, Maktabah Syamilah]

3⃣ Allah ‘Azza wa Jalla memperlihatkan lailatul qadar dengan tanda-tanda alam yang dapat dikenali oleh seorang mu’min yang mengetahui sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama- berikut :

عَنْ زِرٍّ قَالَ سَمِعْتُ أُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُ - وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ - فَقَالَ أُبَىٌّ وَاللَّهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِنَّهَا لَفِى رَمَضَانَ - يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِى - وَوَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُ أَىُّ لَيْلَةٍ هِىَ. هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

Dari Zirr bin Hubais -rahimahullahu-, ia berkata : "Aku mendengar Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu 'anhu-  mengatakan ketika dikatakan kepadanya bahwa Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu'anhu- berkata : "Siapa yang menegakkan shalat malam selama satu tahun maka ia akan mendapatkan Lailatul Qadar", : (Ubay Berkata): "Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, bahwasanya Lailatul Qadar itu terdapat di dalam bulan Ramadhan” Lalu Ubay bersumpah dengan pasti : “Demi Allah, sungguh aku benar-benar mengetahui malam yang dimaksud itu. Ia adalah malam yang kita diperintah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama- untuk melakukan shalat malam dan itu adalah malam ke dua puluh tujuh. Tandanya adalah matahari terbit di waktu pagi harinya tidak ada cahaya yang menyilaukan padanya. [HSR. Muslim -rahimahullahu- dalam shahihnya no. 1821, Maktabah Syamilah]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: " لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ لا حَارَّةٌ وَلا بَارِدَةٌ تُصْبِحُ شَمْسُها صَبِيحَتَهَا ضَعِيفَةً حَمْرَاءَ

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama- telah bersabda tentang Lailatul Qadar : “Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak panas dan tidak dingin. Matahari di pagi harinya menjadi lemah sinarnya lagi tampak kemerah-merahan.” [HR. Ath Thayalisi -rahimahullahu- dalam musnadnya no. 2793, Maktabah Syamilah. Syaikh Al Albani -rahimahullahu- menilainya Shahih dalam Shahih al-Jaami’ no. 5475, Maktabah Syamilah]

Dari Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu'anhu-, dia bercerita bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama- bersabda :

صَبِيحَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَّمْسُ لاَ شُعَاعَ لَهَا ، كَأَنَّهَا طَسْتٌ حَتَّى تَرْتَفِعَ

"Pagi hari setelah lailatul qadar, matahari terbit tanpa sorotan sinar seakan-akan sebuah baskom hingga ia meninggi." [Shahih al-Jaami’ no. 3754, Maktabah Syamilah]

Apa yang kita lakukan pada Lailatul Qadar?

Saudaraku seislam yang saya muliakan, mari kita perhatikan petunjuk Nabi kita tentang apa yang semestinya diamalkan seorang muslim pada Lailatul Qadar tersebut.

عَنْ عَائِشَةَ  رضى الله عنها  قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ   صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ  وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Dari ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha-, dia berkata : “Adalah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama- apabila memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. Beliau bersungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada Allah dan mengencangkan ikatan kain sarungnya.” [HSR. Muslim -rahimahullahu- no. 2844, Maktabah Syamilah]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ  رضى الله عنه  عَنِ النَّبِىِّ  صلى الله عليه وسلم - قَالَ  مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi -shallallahu ‘alaihi  wa sallama-,   beliau bersabda : “Barangsiapa yang menegakkan shalat malam pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  [HSR. Bukhari -rahimahullahu- dalam shahihnya no. 1901, Maktabah Syamilah]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللهم إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »

Dari ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha-, ia berkata : “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengetahui Lailatul Qadar apa yang harus aku ucapkan pada malam tersebut?  Mendegar pertanyaan istrinya maka beliau bersabda, ‘Ucapkanlah :

اللهم إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ

Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemaaf, menyukai pemaafan maka berilah maaf kepadaku.”  [HR. Tirmidzi -rahimahullahu- dishahihkan Syaikh Al Albani -rahimahullahu- dalam Shahih at-Targhiib wat Tarhiib no. 3391]

Hadits yang mulia di atas memberikan arahan kepada kita semua agar lebih bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam-malam di sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, terlebih khusus lagi pada malam Lailatul Qadar dengan beribadah kepada Allah Ta’aala.

Ibadah yang dimaksud tentunya adalah amalan-amalan yang dianjurkan atau dicontohkan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama- dalam sunnahnya dan amalan yang dipraktekkan para sahabat atas sunnah beliau itu seperti qiyamullail, beri’tikaaf, banyak berdoa terutama berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi kepada 'Aisyah istrinya, dan amalan-amalan sunnah lainnya. Bukan membuat-buat amalan sendiri lalu dibumbui berbagai kasiat bahkan terkadang disertai ancaman kepada orang yang mengingkari amalannya itu._

Wallahu a’lam

Demikian dapat disampaikan.

Semoga Allah merezekikan kita keutamaan lailatul qadar dan menjadikan kita termasuk hamba yang mendapatkan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api Neraka-Nya. Sungguh Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu lagi Maha Luas Rahmat-Nya, aamiin.

Wa shallallahu wa sallama 'alaa Nabiyyinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihi ajma'iin

✒ Ibnu Mukhtar
📚 17 Ramadhan 1441 H
Tags:
Kebijakan Komentar:Silahkan tulis komentar Anda sesuai dengan topik posting halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum persetujuan.
Buka Komentar
Motivasi, Berbagi Pengetahuan