-->

Adab-adab Mulia dalam Menyembelih Hewan Qurban


بســم الله الرحـمن الرحـيم

ADAB-ADAB MULIA DALAM MENYEMBELIH HEWAN QURBAN

✒ Ibnu Mukhtar

Segala puji hanyalah untuk Allah semata. Shalawat dan salam untuk Rasulullah yang tidak ada nabi lagi setelah beliau diutus. Amma ba’du.

Saudaraku seislam yang saya muliakan, menyembelih hewan qurban pada hari raya qurban adalah salah satu bentuk ibadah dan pendekatan diri seorang hamba kepada Rabbnya. Oleh karena itu  apabila kita termasuk orang yang akan menyembelih hewan qurban –baik karena ia milik kita sendiri atau mewakili orang yang memiliki hewan qurban- maka sudah seharusnya kita menghiasi diri dengan adab-adabnya yang mulia.

Di antara adab-adab mulia terkait menyembelih hewan qurban adalah:

Pertama, hendaknya kita merasa bergembira, berbahagia, dan bersyukur dalam menunaikan ibadah qurban.

Bisa menunaikan ibadah qurban merupakan salah satu nikmat dan karunia Allah Ta’aala yang diberikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Betapa banyak orang yang diberikan kecukupan harta dan kemampuan berqurban malah tidak mau mempersembahkan qurban terbaiknya di hari yang mulia ini.  Kalau pun di antara mereka ikut berqurban namun hatinya dipenuhi kesempitan dan keterpaksaan. Maka merasa bergembira, berbahagia dan bersyukur dalam menunaikan ibadah qurban merupakan akhlak mulia pequrban yang menginginkan keridhaan Allah Ta’aala dengan qurbannya.

Allah Ta’aala berfirman:

Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".[QS. Yunus ayat 58]

Kedua, menghadirkan rasa pengagungan terhadap Allah dan syari’at-Nya.

Menyembelih hewan qurban untuk Allah dan dilakukan dengan cara-cara yang dicintai dan diridhai-Nya termasuk ibadah yang menjadi hak-Nya. Oleh karena itu seorang hamba dituntut untuk mengagungkan Allah dan syari’at-Nya di dalam pelaksanaannya. Bahkan rasa pengagungan ini sudah seharusnya ada di dalam semua ibadah yang dilakukannya.

Allah Ta’aala berfirman:

Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya sikap pengagungan itu timbul dari ketakwaan hati. [QS. Al Hajj ayat 32]

Rasa pengagungan yang benar kepada Allah dan syari’at-Nya akan menghasilkan:

📌 Rasa harap akan ampunan dan rahmat-Nya.

📌 Rasa cinta kepada-Nya dan cinta kepada apa-apa yang dicintai-Nya.

📌 Rasa takut tidak diterima amalannya dan rasa takut  mendapatkan murka dan siksa-Nya.

Ketiga, bersungguh-sungguh dalam mengikhlaskan qurban dan seluruh ibadahnya hanya untuk Allah semata.

Allah Ta’aala berfirman:

Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sembelihan-ku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". [QS. Al An’aam ayat 162-163]

Keempat, tidak menggunakan sesuatu yang dilarang syari’at untuk menyembelih sembelihan.

Dari Rafi’ bin Khadij  -radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallama- telah bersabda:

مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ فَكُلْ لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ وَسَأُحَدِّثُكَ أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ

Apa yang bisa mengalirkan darah dan disebut nama Allah atas sembelihannya itu maka makanlah kecuali yang disembelih dengan gigi dan kuku. Aku akan menjelaskannya kepada kalian. Adapun gigi maka ia termasuk tulang. Dan adapun kuku maka ia adalah senjatanya orang Habasyah.” [HSR. Al Bukhari no. 5503 dan Muslim no. 5204]

Kelima, menajamkan alat sembelihan yang akan digunakan terlebih dahulu. Tidak memperlihatkan proses penajamannya kepada hewan yang akan disembelih dan tidak memperlihatkan penyembelihannya di hadapan hewan qurban lainnya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  عَلَى رَجُلٍ   وَاضِعٍ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَةِ شَاةٍ وَهُوَ يَحُدُّ شَفْرَتَهُ  وَهِىَ تَلْحَظُ إِلَيْهِ بِبَصَرِهَا فَقَالَ : أَفَلاَ قَبْلَ هَذَا أَتُرِيدُ أَنْ تُمِيتَهَا مَوْتَات

Dari ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama- melewati seorang laki-laki yang sedang bersiap menyembelih seekor kambing sambil menajamkan pisaunya di hadapan kambing yang melihat proses penajaman pisau tersebut. Melihat kejadian itu maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama- bersabda: “Apakah tidak engkau tajamkan terlebih dahulu pisaumu itu? Apakah engkau akan mematikannya beberapa kali? [HR. Thabrani –rahimahullahu-. Hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albani –rahimahullahu- dalam kitab Shahih at-Targhib wat Tarhib no. 1090, Maktabah Syamilah]

Keenam, berlaku ihsan ketika menyembelih.

Dari Syaddad bin Aus -radhiyallahu ‘anhu-, dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama-, beliau bersabda :

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ »

"Sungguh Allah telah mewajibkan ihsan (berbuat baik) atas segala sesuatu. Oleh karena itu apabila kalian membunuh, berbuat ihsanlah dalam cara membunuhnya, dan apabila kamu menyembelih, berbuat ihsanlah dalam cara penyembelihannya. Dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan hendaklah ia membuat nyaman hewan sembelihannya itu" (HSR. Muslim –rahimahullahu- dalam kitab Shahihnya no. 5167)

Di antara bentuk ihsan terhadap hewan qurban adalah :

1. Menyayangi binatang qurban yang akan disembelih yakni tidak berlaku kasar kepadanya seperti menendang, menyeret dan sebagainya.
2. Menajamkan alat sembelihan sebelumnya dan tidak memperlihatkan penyembelihan-nya di hadapan hewan qurban lainnya.
3. Memposisikan hewan qurban sebagaimana dicontohkan yaitu untuk sapi
dan kambing dengan cara dibaringkan sedangkan unta dengan cara didirikan dengan diikat kaki kirinya yang bagian depan.
4. Tidak mencincang atau membagi daging qurbannya kecuali setelah hewan tersebut benar-benar mati dengan cara penyembelihan.

Ketujuh, menyebut nama Allah dan bertakbir sebelum menyembelihnya, menyebutkan siapa nama pemilik hewan qurbannya, dan berdoa agar Allah menerima ibadah qurbannya tersebut.

Secara ringkas maka bacaan doa orang yang akan menyembelih hewan qurban adalah:

بِسْمِ اللهِ ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهم هذا مِنْكَ وَلَكَ، هذا عَنْ .... اللهم تَقَبَّلْ مِنْ .....  وآل ......

Bismillaah(i), Wallahu Akbar(u). Allaahumma haadzaa minka wa laka. Hadzaa ‘an …. Allaahumma taqabbal min ……. Wa aali……..

Artinya:

Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar. Ya Allah qurban ini adalah rezeki dari-Mu dan diqurbankan hanya untuk-Mu. Qurban ini atas nama ….Ya Allah terimalah qurban dari …. dan keluarga …..

▪Titik-titik diisi nama pemilik hewan qurban

▪Lafazh doa mengambil faedah dari situs soal jawab islam:

https://islamqa.info/ar/answers/36733

Kedelapan, tidak menyembelih sembelihan apalagi hewan qurban di pekuburan (Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud no. 3222), di tempat yang ada salah satu berhala yang disembah, atau di tempat yang dijadikan tempat khusus untuk perayaan hari raya orang-orang kafir (Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud  no. 3313).

Demikian di antara adab-adab mulia dalam penyembelihan hewan qurban. Semoga Allah menjadikan risalah sederhana ini sebagai amal shaleh penulis yang diterima-Nya dan bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

wallahu a'lamu.

Wa shallallahu wa sallama 'alaa Nabiyyinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihi ajma'iina

•┈┈┈┈┈┈•❁❁•┈┈┈┈┈┈•
Tags:
Kebijakan Komentar:Silahkan tulis komentar Anda sesuai dengan topik posting halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum persetujuan.
Buka Komentar
Motivasi, Berbagi Pengetahuan